Wednesday, March 19, 2008

qudwatuna...

Pemergianmu

Kau masih tersenyum mengubat lara,
Selindung derita yang kau rasa,
Senyuman yang mententeramkan,
Setiap insan yang kebimbangan,

Hakikatnya tak tertanggung lagi derita,
Dipangkuan isterimu Humaira,
Menunggu saat ketikanya,
Diangkat rohmu bertemu yang Esa,

Tangan dicelup di bejana air,
Kau sapu dimuka mengurangkan pedih,
Beralun zikir menutur kasih,
Pada ummat dan akhirat,

Dan tibalah waktu ajal bertamu,
Penuh ketenangan jiwamu berlalu,
Linangan air mata syahdu,
Iringi pemergianmu,

Oh sukarnya untuk umat menerima,
Bahkan payah untuk Umar mempercaya,
Tetapi Iman merelakan jua,
Bahawa manusia kan mati akhirnya,

Tak terlafaz kata mengungkap hiba,
Gerhanalah seluruh semesta,
Walaupun kau telah tiada,
Bersemarak cintamu selamanya,

Ya Rasulullah, kau tinggalkan kami warisan yang abadi,
Dan bersaksilah sesungguhnya kami merinduimu


“Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih kucintai daripada diriku, dan anakku,” kata seorang sahabat suatu hari kepada Rasulullah Muhammad saw. “Apabila aku berada di rumah, lalu kemudian teringat kepadamu, maka aku tak akan tahan meredam rasa rinduku sampai aku datang dan memandang wajahmu. Tapi apabila aku teringat pada mati, aku merasa sangat sedih, karena aku tahu bahwa engkau pasti akan masuk ke dalam surga dan berkumpul bersama nabi-nabi yang lain. Sementara aku apabila ditakdirkan masuk ke dalam surga, aku khawatir tak akan bisa lagi melihat wajahmu, karena derajatku jauh lebih rendah dari derajatmu.”

mesti lawat - www.cintarasulullah.wordpress.com